top
logo
Ph :+62 22 727 2416, +62 22 70567946-47 Fax:+62 22 723 1276 VoipRakyat(www.voiprakyat.or.id) : 81155 Email:homecare@griyakami.com

Log In



Peta Griyakami Homecare


Silahkan klik My Saved Places untuk melihat peta menuju Griyakami Homecare

Turunkan Kolesterol, Tak Cukup Dengan Suplemen PDF Print E-mail
Monday, 21 December 2009 09:43
Article Index
Turunkan Kolesterol, Tak Cukup Dengan Suplemen
Page #
All Pages


Di era
modern yang serba instant ini, penggunaan suplemen merupakan salah satu cara praktis yang banyak dipilih. Suplemen adalah penunjang kesehatan, bisa berupa makanan atau minuman. Suplemen tersedia dalam bentuk vitamin, mineral, herbal, asam amino dan sebagainya. Bentuknya bisa berupa pil, tablet, kapsul atau cairan.

Suplemen diet tersedia dalam secara luas di hampir semua negara dan dengan mudah bisa didapatkan di toko obat, apotik, supermarket, bahkan bisa dipesan melalui internet. Orang biasanya menggunakan suplemen dengan alasan menjaga kesehatan.


Beberapa suplemen yang biasa ditemui berupa vitamin dan mineral (biasanya vitamin C atau multivitamin), suplemen dari tanaman (herbal) dan zat-zat yang berasal dari sumber alami, misalnya glukosamin.

Pembuat suplemen tidak boleh mengatakan bahwa produknya bisa mendiagnosa, menyembuhkan, mengobati atau mencegah penyakit. Mereka hanya boleh menyatakan produknya bermanfaat untuk menjaga kesehatan.

Suplemen sudah digunakan selama ribuan tahun untuk membantu menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Kadang-kadang, suplemen-suplemen ini menjadi dasar dari pengobatan masa kini. Sebagai contoh, puluhan tahun orang menggunakan teh dari kulit willow untuk meredakan demam. Perusahaan farmasi kemudian mengidentifikasi zat kimiawi pada kulit willow yang bisa menurunkan demam dan zat inilah yang akhirnya menjadi bahan produksi aspirin.


FDA (Food and Drug Administration) maupun BPOM di Indonesia mengatur suplemen secara berrbeda dengan obat-obatan. Suplemen boleh beredar di masyarakat tanpa harus didahului riset atau informasi mengenai seberapa baik khasiatnya. Jika tanpa riset, lantas apa manfaat suplemen dan bagaimana kita tahu keamanannya?

Orang menggunakan suplemen untuk berbagai kondisi kesehatan. Vitamin dan mineral misalnya, untuk membantu menyembuhkan penyakit. Contohnya, Echinachea dapat menjaga dan cepat menyembuhkan tubuh dari serangan flu, seperti halnya vitamin C. Herbal, lebih banyak dimanfaatkan untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, menurunkan demam, dan menyembuhkan luka. Obat-obatan herbal juga bisa mencegah konstipasi, meredakan nyeri, dan bekerja sebagai relaksan atau stimulan.

Tapi harus diingat bahwa tidak semua herbal dan suplemen aman dikonsumsi. Jika Anda tidak yakin dengan keamanan suplemen atau herbal, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter atau ahli diet. Jika akan mengkombinasikan suplemen dengan obat-obatan konvensional, jangan pernah lupa berkonsultasi dulu dengan dokter Anda. Bisa jadi, mengkonsumsi obat konvensional bersamaan dengan suplemen akan mempengaruhi manfaat atau bahkan membahayakan tubuh. Ibu-ibu yang menyusui juga tidak boleh sembarangan mengkonsumsi suplemen.


Berbagai Penelitian pada Suplemen Penurun Kolesterol

Suplemen yang termasuk sering digunakan adalah suplemen penurun kolesterol. Begitu banyak suplemen diet dipasaran yang mengklaim bisa menurunkan kadar kolesterol. Umumnya produk-produk ini mengklaim sanggup membakar dan mengurangi kolesterol yang berlebihan.

Tingginya konsumsi suplemen penurun kolesterol menandakan bahwa tingkat kesadaran akan bahaya kolesterol sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung, sudah cukup baik dimasyarakat.

Mengapa kolesterol harus diwaspadai?

Kolesterol, yang antara lain berfungsi mengatur keseimbangan cairan tubuh dan menjaga metabolisme kalsium, sebagian besar disintesis oleh hati. Sebagian kecil diperoleh dari makanan yang bersumber dari hewan, daging, susu, dan telur. Makanan ini banyak mengandung lemak jenuh atau “kolesterol jahat” low density lipoprotein (LDL).

Kolesterol yang berlebihan akan memicu kerusakan dinding pembuluh darah yang merupakan awal dari penyakit aterosklerosis. Bila dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini menghambat sirkulasi darah, mengundang resiko penyakit jantung koroner dan stroke. Untuk itulah para dokter mematok 100-120 mg/dl (miligram per desiliter) sebagai batas aman kolesterol. Lebih dari itu, kolesterol harus diturunkan dengan bantuan obat, diet rendah lemak dan olahraga.

Karena pengaruh iklan, suplemen banyak dilirik para penderita hiperlipidemia untuk menurunkan kolesterol mereka. Mereka setia menyantap suplemen penurun kolesterol dalam beragam produk, mulai dari herbal (jamu), ekstrak bawang putih, tablet minyak ikan, pil asam lemak omega 3, multivitamin, sampai suplemen tinggi serat. Sayangnya, tidak semua suplemen didukung oleh studi ilmiah,. Meskipun bukan cara yang sempurna, saat ini studi ilmiah merupakan cara terbaik untuk membedakan tingkat efektifitas suatu suplemen.

Badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat (FDA) pernah merilis berbagai penelitian mengenai suplemen penurun kolesterol yang dilakukan berbagai universitas di AS. Ternyata, sebagian besar riset membuktikan bahwa suplemen tidak signifikan mengikis kolesterol. Bahkan ada penelitian yang menunjukan bahwa suplemen justru meningkatkan kadar lemak. Suplemen, hanya sanggup mengikis gumpalan kolesterol yang beredar di aliran darah. Sedangkan kolesterol yang terlanjur menetap pada dinding pembuluh darah hanya bisa diusir dengan obat yang harus di konsumsi dengan pengawasan dokter.


 

1. Ekstrak daun artichoke

Ekstrak daun artichoke dikenal juga dengan Cynara scolymus. Penelitian pernah dilakukan di Jerman dengan metode acak, double-blind dan kontrol placebo, melibatkan 150 pasien dengan kadar kolesterol 280 mg/dL yang menurut AHA(American Heart Association), masuk kategori risiko tinggi mengalami penyakit jantung koroner. Setelah mengonsumsi ekstrak daun artichoke, selama enam minggu terlihat kadarLDL turun hingga 23% dibandingkan placebo hanya 6%.

Penururnan ini tentu amat menjanjikan. Tetapi di penelitian lain, hasil tersebut tidak terulang. Penelitian selama tiga bulan dengan desain yang sama menemukan bahwa total kolesterol hanya turun 4% pada partisipan yang diberi ekstrak daun artichoke. Secara khusus, tidak ditemukan dampak pada LDL dan HDL. Peneliti kemudian menduga bahwa perbedaan kondisi kesehatan partisipan dan dosis suplemen mempengaruhi hasil studi. Dalam studi kedua, dosis suplemen 30% lebih rendah.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa kualitas penelitian terhadap ekstrak daun artichoke amat rendah dan hasilnya tidak konsisten. Sehingga dibutuhkan bukti yang lebih meyakinkan untuk menginformasikan efeknya terhadap kolesterol. Oleh karena itu, jangn terlalu berharap kolesterol Anda akan turun dengan drastis menggunakan suplemen ini.

 

 2. Fenugreek

 

Fenugreek adalah sejenis biji-bijian yang sudah digunakan sejak jaman Mesir Kuno dan biasanya tersedia dalam bentuk kapsul. Bukti yang menunjukan manfaat fenugreek dalam menurunkan kolesterol didapatkan dari sebuah penelitian tahun 90-an. Dilaporkan bahwa fenugreek dalam dosis tinggi bisa menurunkan kadar kolesterol total dan LDL secara dramatis. Salah satu penelitian bahkan menyebut angka penurunan hingga 38%. Sekali lagi, penelitian-penelitian ini kecil dengan kualitas tidak memadai sehingga meragukan dari sisi hasil dan validitasnya.

Fenugreek mengandung serat tinggi (20-50%) dan para ahli berspekulasi bahwa efek penurunan kolesterol dari herbal ini kemungkinan didapat dari kandungan seratnya. Yang jelas, selain penelitiannya masih sedikit, bukti-bukti efikasi fenugreek juga masih belum cukup.

 

3. Serat

Tahun 1999, tim peneliti dari Harvard Medical School melakukan meta-analisis dari sekitar 70 uji klinis untuk melihat efek serat terhadap kadar kolesterol. Asupan tinggi serat ditemukan berkaitan dengan penurunan LDL maupun total kolesterol hingga 60-70%. Untuk setiap gram serat yang ditambahkan dalam diet, bisa menurunkan kadar LDL Sebesar 2 poin, dalam waktu rata-rata tujuh minggu.

Jumlah serat yang kita butuhkan untuk bisa menurunkan LDL secara signifikan sangat bervariasi. Kebanyakan orang mengonsumsi serat kurang dari 25 gram yang merupakan rekomendasi minimal. Dan, hanya 20% dari total serat yang kita konsumsi yang bisa larut. Artinya jika kita makan tiga mangkuk oatmeal sehari maka hanya sekitar 3 gram yang merupakan serat terlarut, menurut peneliti Harvard.

Mengonsumsi suplemen serat setiap hari bisa membantu, namun ada efek samping berupa masalah pada saluran cerna jika digunakan dalam jumlah besar. Serat juga bisa mempengaruhi efikasi obat-obatan yang kita minum. Kesimpulannya, diet serat bisa menurunkan LDL, namun sebagian besar sulit melakukan diet serat dalam jumlah cukup.

 

4. Minyak Ikan

Minyak ikan (fish oil) kaya akan dua asam lemak omega-3 yang bermanfaat untuk kesehatan jantung yakni EPA dan DPA. Dalam bentuk padat, asam lemak merupakan kandungan utama suplemen minyak ikan dan bisanya dijual dalam bentuk soft kapsul.

Dalam uji klinis, minyak ikan dosis tinggi bisa menurunkan kadar trigliserida, yang merupakan komponen lemak, sekitar 10-30%. Semakin tinggi kadar trigliserida, minyak ikan semakin efektif. Namun minyak ikan tidak menurunkan LDL. Suplemen minyak ikan cenderung menaikan sedikit LDL, meskipun tidak berdampak signifikan dalam merusak arteri.

Dari sini jelas minyak ikan hanya berdampak baik untuk trigliserida. American Heart Association (AHA) merekomendasikan orang yang ingin menurunkan trigliserida dan ingin mengonsumsi minyak ikan untuk konsultasi dahulu dengan dokter dan hanya mengonsumsi 2-4 gram minyak ikan/hari. Bagi yang sudah menderita penyakit jantung, dosis yang direkomendasikan hanya 1 gram per hari untuk EPA dan DPA, dan lebih baik mengonsumsi ikan salmon yang kaya akan minyak ikan.

 

5. Bawang Putih

Salah satu anggota keluarga bawang ini tersedia dalam bentuk minyak, ekstrak atau pil. Tahun 2000 diaporkan jika bawang putih berdampak pada faktor resiko kardiovaskular, dimana menurut laporan Agency for Healtcare Research and Quality di Amerika Serikat, bawang putih bisa menurunkan LDL dan total kolesterol namun hanya untuk sementara dan penurunannya pun kecil.

Penelitian lanjutan dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh peneliti di Standford University deng kualitas baik dan dipublikasikan di Archives of Internal Medicine. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa bawang putih maupun suplemen bawang putih dalam bentuk tablet tidak ada yang memperbaiki kadar lipid jika dibandingkan dengan placebo.

Di akhir penelitian selama enam bulan, dari 192 pria maupun wanita dengan kadar kolesterol antara 130-190 mg/dL, tidak menunjukan penurunan trigliserida maupun total kolesterol dan LDL secara signifikan. Bahkan meningkatkan kadar HDL yang bersifat protektif pun tidak. Meski produk suplemen bawang putih relatif aman, ada 75% peserta penelitian yang menggunakan bawang putih mengalami napas bau dan bau badan. Jadi alih-alih kolesterol turun, justru bau badan yang didapat.

 

6. Ginseng

Ginseng yang merupakan tanaman asal Asia sudah digunakan sebagai obat tradisional selama ratusan tahun dan secara modern dijual dalam bentuk kapsul. Penelitian pada ginseng dan kolesterol menunjukan hasil bervariasi, namun kurang meyakinkan. Dalam review komprehensif yang dilakukan tim peneliti dari Harvard Medical School tahun 2005, ditemukan bahwa ada beberapa penelitian yang menunjukan manfaat ginseng pada kolesterol. Namun kebanyakan hanya penelitian skala kecil dan hanya sebagian kecil yang menggunakan metode double-blind atau menggunakan kontrol placebo. Jadi kesimpulannya tidak ada bukti yang cukup yang mendukung ginseng bisa menurunkan kolesterol.

 

7. Guggul

Satu lagi penelitian yang membuktikan bahwa suplemen herbal tidak bermanfaat menurunkan kolesterol, yakni ekstrak tumbuhan yang bernama guggul. Guggul dikenal juga sebagai pengobatan Ayurvedic. Dr. Philippe O. Szapary, professor dari University of Pennsylvania School of Medicine, melakukan penelitian terhadap guggulsterone, yang merupakan bahan bioaktif dari tanaman guggul. Ternyata produk dari guggulipid ini tidak menurunkan kadar LDL, bahkan menaikan LDL meskipun tidak banyak.

Dalam penelitian oleh Dr. Philippe, dengan desain acak dan double-blind, selama 8 minggu, 103 peserta dewasa dengan peningkayan kolesterol dibagi menjadi tiga kelompok. Satu kelompok diberi dosis standar ekstra guggul (1000 mg) tiga kali sehari. Kelompok kedua diberi dosis lebih tinggi yakni 2000 mg, dan kelompok ketiga diberi placebo. “Kami menemukan kadar LDL meningkat 4%dengan dosis tinggi ekstra guggul. Pada kelompok placebo, juga ditemukan kenaikan 5%”. Artinya efikasi ekstra guggul tidak berbeda dengan placebo. Penelitian lain bahkan menemukan bahwa 20% pengobatan Ayurvedic kemungkinan terkontaminasi dengan toksin tertentu.

 

8. Niacin

Niasin adalah vitamin B yang dikenal dengan asam nikotinat. Ditemukan secara alami pada daging, ikan, dan susu. Para ahli sudah menyatakan selama puluhan tahun bahwa niasin membantu menurunkan kolesterol. Penelitian besar---berlangsung hampir 7 tahun dengan melibatkan lebih dari 1100 orang---ditahun 1970 menemukan bahwa niasin secara signifikan bisa menurunkan total kolesterol, LDL, dan trigliserida. Namun efek yang paling disorot adalah efeknya pada HDL.

Penelitian menunjukan niasin dapat meningkatkan HDL hingga 35%. Maka, niasin sering diberikan bersamaan dengan statin, yang merupakan obat penurun LDL.

Efek niasin hanya bisa didapat pada dosis tinggi antara 2-3 gram/hari dan harus diberikan dalam bentuk lepas lambat. Diapotek, tersedia niasin lepas lambat dengan dosis hingga 500 mg atau lebih. Hati-hati mengonsumsi niasin dosis tinggi karena bisa menghasilkan efek samping berupa kemerahan dikulit (skin flushing) hingga kerusakan hati.

 

9. Red Yeast Rice (angkak)

Red yeast rice (angkak) adalah jamur yang tumbuh di beras dan mengandung sedikit bahan alamiah dari lovastatin, salah satu jenis statin. Dibandingkan kebanyakan suplemen, efikasi angkak termasuk paling kuat. Ini cukup mengejutkan karena ternyata angkak memiliki efek seperti statin dosis rendah. Dalam penelitian selama bertahun-tahun, berbagai preparasi angkak ditemukan bisa menurunkan LDL sekitar 20-30% dan bisa dibandingkan dengan statin. Penelitian terbaru tahun 2009, menunjukan pasien yang tidak toleran dengan efek samping statin dan beralih ke kapsul angkak mengalami penurunan kolesterol total dan LDL hingga 15-21% dibandingkan 5% dan 9% dengan placebo.

Tetapi efek potensialnya dalam menurunkan kolesterol justru membuat para ahli khawatir dan curiga. Dalam sebuah penyelidikan ditemukan sejumlah lovastatin dalam pil angkak berbagai merek.

 

10. Protein Kedelai

Protein kedelai ditemukan pada makanan berbahan kedelai seperti tahu dan susu kedelai. Ada juga bubuk kedelai. 10 tahun lalu, FDA mulai mengijinkan pemberian label pada beberapa produk kedelai. Label tersebut berisi pesan bahwa protein kedelai rendah kolesterol dan lemak jenuh serta bisa membantu menurunkan risiko penyakit jantung dan menurunkan LDL. Sejak itu konsumsi produk kedelai di Amerika meningkat tajam apalagi setelah penelitian menemukan efek protein kedelai terhadap penurunan LDL.

Sebuah review yang dilakukan komisi nutrisi AHA menemukan fakta bahwa rata-rata konsumsi 50 gram protein kedelai sehari bisa menurunkan LDL walaupun hanya 3%.

 

Take Home Message

Suplemen hanya sebagai penunjang kesehatan dan tidak bisa menggantikan peran obat penurun kolesterol. Diet, olahraga dan penggunaan obatseperti statin masih menjadi pilihan utama dalam menurunkan kadar kolesterol. Tidak seperti penelitian suplemen yang desainnya tidak memadai dan biasanya skala kecil, penelitian statin menggunakan metode ilmiah yang benar, melibatkan ratusan ribu pasien, serta di-follow up dalam waktu lama.

Semua statin yang dipasarkan aman untuk digunakan. Atorvastatin merupakan statin yang memiliki bukti penelitian terbesar dan terlengkap. Dari berbagai penelitian berskala besar, atorvastatin terbukti tak hanya mampu menurunkan kadar LDL secara signifikan, tetapi juga menurunkan resiko stroke dan penyakit jantung koroner.

Jadi menurunkan kolesterol, tak cukup hanya dengan suplemen! Langkah terbaik adalah segera konsultasi ke dokter jika kadar LDL Anda tinggi.


Referensi :www.health.com, www.fda.gov, en.wikipedia.org/food_supplement

 

 


Last Updated on Tuesday, 22 December 2009 02:08
 

bottom

Powered by Joomla!. Designed by: Joomla 1.5 Template, .com.cn domain. Valid XHTML and CSS.