Log In
| Turunkan Kolesterol, Tak Cukup Dengan Suplemen |
|
|
|
| Monday, 21 December 2009 09:43 | ||||
Page 1 of 2
Suplemen diet tersedia dalam secara luas di hampir semua negara dan dengan mudah bisa didapatkan di toko obat, apotik, supermarket, bahkan bisa dipesan melalui internet. Orang biasanya menggunakan suplemen dengan alasan menjaga kesehatan.
Beberapa suplemen yang biasa ditemui berupa vitamin dan mineral (biasanya vitamin C atau multivitamin), suplemen dari tanaman (herbal) dan zat-zat yang berasal dari sumber alami, misalnya glukosamin. Pembuat suplemen tidak boleh mengatakan bahwa produknya bisa mendiagnosa, menyembuhkan, mengobati atau mencegah penyakit. Mereka hanya boleh menyatakan produknya bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Suplemen sudah digunakan selama ribuan tahun untuk membantu menjaga kesehatan dan menyembuhkan penyakit. Kadang-kadang, suplemen-suplemen ini menjadi dasar dari pengobatan masa kini. Sebagai contoh, puluhan tahun orang menggunakan teh dari kulit willow untuk meredakan demam. Perusahaan farmasi kemudian mengidentifikasi zat kimiawi pada kulit willow yang bisa menurunkan demam dan zat inilah yang akhirnya menjadi bahan produksi aspirin.
Orang menggunakan suplemen untuk berbagai kondisi kesehatan. Vitamin dan mineral misalnya, untuk membantu menyembuhkan penyakit. Contohnya, Echinachea dapat menjaga dan cepat menyembuhkan tubuh dari serangan flu, seperti halnya vitamin C. Herbal, lebih banyak dimanfaatkan untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, menurunkan demam, dan menyembuhkan luka. Obat-obatan herbal juga bisa mencegah konstipasi, meredakan nyeri, dan bekerja sebagai relaksan atau stimulan. Tapi harus diingat bahwa tidak semua herbal dan suplemen aman dikonsumsi. Jika Anda tidak yakin dengan keamanan suplemen atau herbal, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter atau ahli diet. Jika akan mengkombinasikan suplemen dengan obat-obatan konvensional, jangan pernah lupa berkonsultasi dulu dengan dokter Anda. Bisa jadi, mengkonsumsi obat konvensional bersamaan dengan suplemen akan mempengaruhi manfaat atau bahkan membahayakan tubuh. Ibu-ibu yang menyusui juga tidak boleh sembarangan mengkonsumsi suplemen. Berbagai Penelitian pada Suplemen Penurun Kolesterol Suplemen yang termasuk sering digunakan adalah suplemen penurun kolesterol. Begitu banyak suplemen diet dipasaran yang mengklaim bisa menurunkan kadar kolesterol. Umumnya produk-produk ini mengklaim sanggup membakar dan mengurangi kolesterol yang berlebihan. Tingginya konsumsi suplemen penurun kolesterol menandakan bahwa tingkat kesadaran akan bahaya kolesterol sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung, sudah cukup baik dimasyarakat. Mengapa kolesterol harus diwaspadai? Kolesterol, yang antara lain berfungsi mengatur keseimbangan cairan tubuh dan menjaga metabolisme kalsium, sebagian besar disintesis oleh hati. Sebagian kecil diperoleh dari makanan yang bersumber dari hewan, daging, susu, dan telur. Makanan ini banyak mengandung lemak jenuh atau “kolesterol jahat” low density lipoprotein (LDL). Kolesterol yang berlebihan akan memicu kerusakan dinding pembuluh darah yang merupakan awal dari penyakit aterosklerosis. Bila dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini menghambat sirkulasi darah, mengundang resiko penyakit jantung koroner dan stroke. Untuk itulah para dokter mematok 100-120 mg/dl (miligram per desiliter) sebagai batas aman kolesterol. Lebih dari itu, kolesterol harus diturunkan dengan bantuan obat, diet rendah lemak dan olahraga. Karena pengaruh iklan, suplemen banyak dilirik para penderita hiperlipidemia untuk menurunkan kolesterol mereka. Mereka setia menyantap suplemen penurun kolesterol dalam beragam produk, mulai dari herbal (jamu), ekstrak bawang putih, tablet minyak ikan, pil asam lemak omega 3, multivitamin, sampai suplemen tinggi serat. Sayangnya, tidak semua suplemen didukung oleh studi ilmiah,. Meskipun bukan cara yang sempurna, saat ini studi ilmiah merupakan cara terbaik untuk membedakan tingkat efektifitas suatu suplemen. Badan pengawas obat dan makanan di Amerika Serikat (FDA) pernah merilis berbagai penelitian mengenai suplemen penurun kolesterol yang dilakukan berbagai universitas di AS. Ternyata, sebagian besar riset membuktikan bahwa suplemen tidak signifikan mengikis kolesterol. Bahkan ada penelitian yang menunjukan bahwa suplemen justru meningkatkan kadar lemak. Suplemen, hanya sanggup mengikis gumpalan kolesterol yang beredar di aliran darah. Sedangkan kolesterol yang terlanjur menetap pada dinding pembuluh darah hanya bisa diusir dengan obat yang harus di konsumsi dengan pengawasan dokter. |
||||
| Last Updated on Tuesday, 22 December 2009 02:08 |



