Mengenali Artritis Gout

Asam urat sering kali disalahkan jika seseorang mengalami nyeri sendi. Kenyataannya, penyakit nyeri sendi akibat asam urat hanya merupakan sebagian kecil dari keluhan nyeri sendi. Di samping itu, anggapan masyarakat untuk tidak mengonsumsi sayuran hijau dan kacang-kacangan jika mengalami nyeri sendi, tidak terbukti secara ilmiah. Begitu pula obat penurun asam urat (alopurinol) yang seringkali salah digunakan untuk keluhan nyeri sendi. Padahal, obat itu tidak dapat menghilangkan nyeri. Bahkan efek sampingnya bisa menyebabkan reaksi alergi, nyeri semakin bertambah, kerusakan ginjal, bahkan kematian.

Rematik adalah kumpulan penyakit dengan kelainan pada sistem tulang-otot, sendi, dan jaringan ikat. Ada lebih dari seratus macam penyakit penyebab nyeri otot dan sendi, dan rematik hanyalah salah satunya. Data dari Poli Reumatologi Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung selama Januari sampai Desember 2010 menunjukkan, kurang lebih 73% pasien nyeri sendi mengalami pengapuran dan bukan asam urat. Hanya sekitar 3,3% yang mengalami nyeri sendi akibat peningkatan kadar asam urat (artritis gout).

Lalu, apa itu artritis gout?
Artritis gout merupakan penyakit radang sendi yang dapat menimbulkan rasa nyeri yang sangat hebat, disertai bengkak, hangat, kadang kemerahan pada sendi yang terkena dan sulit untuk digerakkan. Penyakit ini diakibatkan oleh deposisi kristal monosodium urat (MSU) di dalam sendi yang memicu reaksi peradangan. Keadaan ini sangat berhubungan dengan kadar asam urat dalam darah (hiperurisemia). Namun, orang yang mengalaminya belum tentu menderita artritis gout.

Peningkatan kadar asam urat dalam darah seseorang berhubungan dengan dua faktor:
1.Produksi yang berlebihan;
2.Pengeluaran asam urat yang menurun melalui ginjal atau kombinasi keduanya.

 

Siapa saja yang bisa terkena artritis gout?
Umumnya artritis gout seringkali dijumpai pada laki-laki dari semua usia, paling sering pada dekade kelima atau keenam. Namun, pada perempuan umumnya dijumpai pada usia lanjut (lansia) atau sesudah menopause. Penyakit kegemukan, tekanan darah tinggi, diet tinggi, serta konsumsi alkohol adalah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya artritis gout.

Apabila tidak diobati dengan cara yang benar, artritis gout dapat menimbulkan serangan yang berulang, menjadi penyakit sendi menahun disertai pembentukan tofus (tonjolan berisi kristal-kristal asam urat) serta dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi di samping kerusakan pada sendi itu sendiri. Komplikasi yang mungkin timbul adalah penyakit jantung, penyakit ginjal, penurunan kualitas hidup maupun produktifitas kerja akibat nyeri, kecacatan karena kontraktur sendi serta peningkatan biaya pengobatan.

***
dr. Laniyati Hamijoyo, SpPD-KR, M.Kes.

Sumber: Harian Pikiran Rakyat edisi 22 Desember 2011