Surat dari Ibunda Nisa
Saya orang tua dari Nabilah Puspasari (Nisa), Saya guru SD di Taman Kopo Indah dan suami pegawai PT. KAI. kami biasa memanggil anak kami Nisa.
Pada saat Nisa lahir, dia tidak bisa menangis di bidan. Dan akhirnya di rujuk di rumah sakit Al Islam Bandung. Disana dia tinggal selama 1 bulan semenjak dia lahir. Menurut dokter disana pada saat Nisa sudah waktunya kami bawa pulang. Dokter bilang bahwa anak kami Nisa aksifia berat. Kalo tidak salah bahasa umumnya adalah kekurangan oksigen berat. Nah dari situ kami sebagai orangtua harus waspada dalam tumbuh kembang dia nanti. Dan benar adanya pada saat Nisa berumur 6 bulan, dia tidak bisa tengkurap. Kami pergi ke Rumah Sakit Al Islam lagi. dan di tumbuh kembang anak. Nisa banyak diperiksa. Kadang kami juga ke RSHS. di tumbuh kembang anak juga ( second opinion ) dan di dokter syaraf dengan dr. Poerboyo. Disana kami dirujuk untuk berobat . Dari EEG. BERA.MATA. dan lain – lain .
Dari sana anak kami Nisa disimpulkan Cerebral Palsy (CP) type spastic. Kalo menurut dari dokter tumbuh kembang anak di Al Islam, Nisa dalam kategori yang berat. (semoga saja dalam perkembangannya masih banyak perubahan yang baik).
Antara perjalanan berobat Nisa. umur 2 ,5 tahun sampe sekarang . Nisa berobat akupuntur. Pertama berobat di bapak Yongki di Cileunyi, satu minggu sekali kami datang. Biaya 150 ribu per kedatangan. Nisa di tusuk jarum dan diberi ramuan Cina herbal. 2 tahun berobat di pak Yongki kami bertemu teman Pak Yongki yang kebetulan rumahnya dekat tapi beda kompleks. Bapak Agus namanya. Kami pindah ikut akupuntur dia, tanpa obat obatan sampe sekarang.
Perkembangan Nisa sekarang kalo saya bilang . Alhamdulilah cukup baik. Kaget Nisa berangsur hilang, mungkin karena berkat akupuntur. Untuk melihat dia memang tidak fokus. Dulu Nisa tidak tertarik mainan, tapi lumayan sekarang dia mulai mau memperhatikan orang-orang yang lewat di sekelilingnya. Emosi dia sudah mulai muncul. Senang dan sedih sudah sangat kelihatan. Posisi kepala sudah lumayan bisa tegak lama, makan bagus dan jarang tersedak. Pola tidur membaik. Tangan sudah bagus tidak terkepal. Sekarang dia sering melihat ke tangannya yang dia angkat ke atas. Kaki lumayan tidak terlalu kaku. Nafsu makan bisa dibilang baik, minum juga baik walaupun masih disemprot pakai dot. Sekarang Nisa anak yang periang, selalu tersenyum. Bicara dari pendek … lumayan sudah agak panjang .. seperti. Gaaaaaaaaaak, hmmmmmmm, untuk ini dia masih banyak belajar dan belum mengerti atau memahami dengan baik. Pendengaran dia sangat peka juga.
Dia paling suka sikat gigi dari kecil tapi dia takut air dingin. Jadi dibilas sama air hangat atau mandi air hangat. Pernah kami bawa ke Cipanas tempat pemandian air hangat. Lama kami rendam dia di kolam bersama kami, malah dia senang sekali dan menikmati.
Semakin Nisa besar kami mulai berpikir untuk mencari kursi roda yang cocok buat Nisa. Kebetulan kami punya teman, Michael namanya. Pada saat pertama kali dia datang dan bertemu Nisa. Dia kaget karena selama hidupnya dia tidak pernah melihat anak seperti Nisa. Dia mulai banyak bertanya tentang Nisa . Dan pada saat dia mau pulang dari rumah kami. Dia sebenarnya menangis karena sedih lihat kondisi Nisa tapi malu untuk mengakui. Dari situlah awal janji Michael untuk Nisa memberikan kursi roda pada pertemuan mendatang .
Dan pada saat yang tepat. Michael akan datang ke Indonesia. Saya mencari kursi roda dengan searching di google. dan Griyakami Homecare adalah urutan pertama di google . Saya baca terus sampai saya baca artikel tentang Irfan dan lihat gambar – gambar kursi di Griyakami homecare. Kebetulan pada saat itu berbarengan dengan saya berobat Nisa di Suryakanthi. Ada salah satu tetangga kami, namanya Ibu Tini adalah salah satu therapis disana dan ia cerita tentang Ibu Lidia, desainer kursi roda khusus CP. Kebetulan sekali pada saat Nisa berobat disana. Saya melihat dokter Lidia tapi kami tidak berbicara karena belum saling mengenal dan kebetulan dia lagi dalam tahap percobaan akhir untuk kursi dengan salah satu pasiennya. Saya lihat kursi roda dia yang baru jadi dan langsung dipake oleh anak tersebut.
Batin saya, kursi roda seperti inilah yang cocok buat Nisa kebetulan anak tersebut laki-laki penderita CP tapi sedikit beda kasus. Saya pikir untuk memesan kursi roda di Suryakanthi haruslah jadi pasien lama padahal saya baru sekali kesana.
Saya putuskan untuk menghubungi Griyakami Homecare. Di Griyakami Homecare kami dibuatkan janji dengan dokter Vitri- dokter Spesialis Rehab Medik untuk melihat kursi yang bagaimana yang cocok untuk Nisa. Kebetulan sekali Michael juga datang ke Griyakami pada saat proses pemesanan kursi roda tersebut. Dia ikut kami waktu dr. Vitri memeriksa kondisi Nisa. Di kantor Griyakami saya juga baru tahu dan bertemu bahwa Ibu Lidia ternyata ikut juga dalam pengerjaan kursi roda Nisa. Dia tanpa lelah dan tetap semangat mengukur secara detail Nisa.
Dalam proses selanjutnya. kami datang untuk percobaan kursi pertama Nisa apa yang cocok dan apa yang kurang kami diskusikan. Pada saat percobaan yang kedua adalah tahap finishing. Di tahap inilah kami bisa langsung bawa pulang kursi roda Nisa. Betapa bahagianya kami membawa kursi roda Nisa ke rumah. Nisa mencoba kursinya beberapa hari dan karena mendekati lebaran. Kursi baru tersebut kami bawa ke Solo. Disana kami semua senang karena pas hari Ulang Tahun Nisa yang ke 6, yang kebetulan juga bertepatan dengan Hari Lebaran tahun 2009. Betapa bahagianya Nisa karena dia mendapat hadiah yang sangat berguna baginya. Begitu juga kebagiaan kami. Kini kami bisa mengajak Nisa jalan-jalan di sekitar rumah tetangga kami di Solo. Tanpa perlu banyak menggendong lagi.
Begitulah cerita tentang anak kami, Nisa. Semoga pengalaman kami bisa berguna bagi yang membutuhkan .
Salam dari Rancaekek
Ibu Nila – Bapak Daryono dan Nisa



